Lika-Liku Perjalanan Kak Firda Meraih Mimpi Menjadi Caregiver di Jepang
Profil Kak Firda
Kak Firda bernama lengkap Firda Rizka Amalia. Kak Firda berasal dari Indramayu, Jawa Barat dan merupakan lulusan S1 Pendidikan Biologi IAIN Syekh Nurjati Cirebon tahun 2021. Kak Firda merupakan salah satu peserta batch pertama dari program persiapan tokutei ginou untuk pemula AyoTG by Human Mandiri Indonesia.
Kak Firda akan berangkat ke Jepang untuk menjadi tokutei ginou atau Specified Skilled Worker (pekerja berketrampilan khusus) ke Jepang di tanggal 4 Februari 2025. Di bulan agustus tahun lalu atau Agustus 2024, status kak Firda sudah masuk ke fase menunggu pengurusan dokumen sambil mengikuti kelas online. Pada 28 Agustus 2024, tim AyoTG yang diwakili oleh MinYo berbincang dengan kak Firda melalui ZOOM meeting dan melakukan tanya jawab seputar pengalamannya saat menjadi peserta program persiapan tokutei ginou untuk pemula di AyoTG. Yuk simak tanya jawabnya di bawah ini!
MinYo (MY): Apa alasan Kak Firda ingin mengikuti Tokutei Ginou?
Kak Firda (F): Saya terinspirasi karena di sana jenjang kariernya lebih terarah, gitu, lebih ada tahapannya dan jelas.
MY: Mengapa Kak Firda memilih bidang kaigo (caregiver)?
F: Karena pada dasarnya keluarga saya rata-rata Kesehatan. Cuman, saya pribadi lulusan dari Keguruan dan terinspirasi aja dari keluarga gitu. Dan kebetulan ketemu dengan programm Tokutei Ginou Caregiver, jadi saya tekuni juga.
MY: Mengapa Kak Firda memilih HMI?
F: Sebenarnya, sebelumnya nyari-nyari LPK juga… Cuman, pas dikepoin akun IG-nya, ternyata pemberangkatan dari Gunamandiri udah banyak dan terkenal dengan keamanannya. Jadi kayak terarah gitu. Jadi makanya pas disaranin untuk masuk ke Gunamandiri, saya dengan senang hati masuk ke Gunamandiri.
(※ Human Mandiri Indonesia satu induk Perusahaan dengan LPK Gunamandiri)
MY: Apakah sebelumnya Kak Firda sudah bisa berbahasa Jepang?
F: Belum tau sama sekali. Karena sebelumnya kan belum ada rencana untuk ikut ke Jepang juga. Jadi benar-benar pas belajar di Gunamandiri itu, benar-benar dari nol.
Benar-benar dari nol, buta huruf, nggak bisa baca apa pun dari bahasa Jepang, pokoknya benar-benar dari nol.
MY: Bagaimana perasaannya ketika diumumkan lulus Walk In?
F: Senang banget sih, karena nggak nyangka aja. Yang tadinya nggak ada harapan apa-apa gitu ya. Kalau lolos ya syukur, kalau nggak juga ya udah nggak apa-apa gitu, buat pembelajaran aja. Tapi Alhamdulillah-nya lulus, jadi senang banget.
Kak Firda Saat Mengikuti Walk-In Interview (sumber: dokumentasi AyoTG)
Pengalaman Kak Firda Belajar di Program Persiapan Tokutei Ginou AyoTG by Human Mandiri Indonesia
MY: Apa hambatan dalam belajar Bahasa Jepang?
F: Kalau dari pas awal sampai sekarang sih tetap kanji. Cuman kanji sebenarnya kalau semisalnya dipelajari dan diingat dengan baik, sering ditulis gitu, itu bisa langsung diingat. Pas awal-awal itu sebenarnya karena buta huruf Jepang gitu ya... Jadi benar-benar… Apa ya… Susah banget buat memahami, ini bentuknya apa...? ‘A, I, U, E, O’ tuh bentuknya kayak gimana…?
Kemudian pas seiring berjalannya waktu, sering dilakukan tes-tes juga buat huruf-huruf dan Alhamdulillah lancar sampai sekarang. Tapi yang jadi sering lupa sekarang-sekarang itu salah satunya bunpou (tata bahasa / grammar). Jadi sering lupa di kanji sama bunpou.
MY: Apa hal menyenangkan dalam belajar bahasa Jepang?
F: Kalau dari pembelajaran bahasa Jepang yang paling menyenangkan itu sebenarnya kaiwa (percakapan). Karena dari kaiwa itu kita bisa ngerangkai-ngerangkai kata yang kita mau kan. Tapi karena... Ya kembali lagi, karena bunpou itu harus benar-benar diingat dan dilakuin, jadi, yam au gak mau harus mempelajari bunpou-nya dulu gitu biar bisa kaiwa.
MY: Apa yang paling berkesan saat belajar Bahasa Jepang?
F: Yang paling berkesan beneran kaiwa sih di dalam kelas ya. Karena setiap pembelajaran itu sebelum memulai ke materi-materi selanjutnya itu diwajibkan untuk kaiwa terlebih dahulu. Karena di bukunya itu diawali dengan kaiwa, terus kita maju ke depan, happyou (presentasi) di depan teman-teman gitu. Jadi kita lebih happy berekspresi gitu buat ke temen-temen, sampai temen-temen juga kadang kaiwa-nya juga dengan bantuan alat gerak atau alat apa pun itu dipakai gak apa-apa. Jadi paling menyenangkan itu kaiwa sih.
MY: Bagaimana cara membagi waktu belajar bahasa dan SSW?
F: Kalau dari segi bahasa kan kita belajarnya di kelas ya, jadi kayak formal gitu, di kelas kita pembelajaran seperti biasa, ada Sensei-nya, segala macam. Nah kemudian saya mempelajari SSW itu—dari awal pas dibilang mau ada tes SSW itu—mempelajarinya sendiri sebenarnya awalnya. Cuman dikasih materi dari Gunamandiri (HMI).
Saya mempelajarinya di malam hari, ketika setelah selesai ngerjain PR itu saya luangkan waktu untuk mempelajari SSW setidaknya 15 menit lah. Untuk belajar materinya, belajar kosakata dari kaigo-nya, dan lain sebagainya itu di malam hari.
MY: Sejak kapan dan bagaimana pembelajaran SSW sejauh ini?
F: Belajar sendiri itu dari mulai bulan Maret. Itu karena kita menunggu surat SSW-nya itu, dari bulan Maret itu belajar sendiri. Kemudian di bulan mendekati tes SSW yang sebenarnya itu di bulan Mei, akhir April, sampai Juni itu, pelaksanaan SSW itu, belajarnya sama Sensei. Namanya Erpin Sensei.
Itu (pembelajaran dengan Sensei) lebih spesifik sih, jadi lebih paham, karena ada Sensei-nya jadi lebih terarah.
MY: Apa hambatan dalam belajar SSW Kaigo?
F: Kalau dari pembelajaran SSW kan karena kaigo kan materinya mencakupnya luas ya. Jadi yang paling sulit bagi saya karena kaigo juga memakai bahasa-bahasa ilmiah seperti pada kesehatan pada umumnya gitu, jadi yang sering lupa itu kan bahasa-bahasa ilmiahnya. Dan bahasa ilmiahnya di-Jepang-in gitu, jadi makin sulit.
Tapi yang paling menyenangkan itu, kita jadi tau kosakata di kaigo itu apa-apa aja. Semisalnya kayak alat-alat yang digunakan di kaigo, jadi kita paham. Kemudian cara praktik untuk menolong seseorang di kaigo itu kayak gimana itu diterangin secara detail, jadi kita lebih paham buat nanti praktiknya.
MY: Kak Firda sempat gagal saat mencoba tes JFT pertama kali. Bagaimana perasaannya?
F: Yang saya rasakan... Saat JFT pertama itu karena pembelajarannya itu masih terbatas dan baru awal-awal—sudah memasuki ke N4 tapi belum semuanya. Jadi banyak bunpou dan kanji-kanji yang belum saya pahami dari soal-soal JFT-nya. Kemudian pada saat itu juga karena dapat kuota (ujian)nya mepet, jadi pembelajarannya kayak dikebut gitu. Dan lebih spesifiknya, kanji-nya belum mempelajari banyak sih.
MY: Persiapan apa yang Kak Firda lakukan untuk percobaan JFT ke-2?
F: Untuk tes selanjutnya, pada saat itu saya benar-benar sungguh-sungguh belajar dan Alhamdulillah-nya bersama rekan juga belajarnya bareng, jadi lebih kayak terinspirasi gitu.
Belajar bareng, ngerjain soal bareng, kemudian konsultasi ke Sensei juga. Kebetulan pada saat itu Sensei tannin-nya Andhika Sensei. Jadi Andhika Sensei juga sedikit banyaknya membantu untuk pembelajaran JFT pada saat itu.
Kemudian nambah-nambah kanji yang baru-baru, N4 semuanya, dan coba-coba latihan soal di aplikasi-aplikasi tertentu seperti Irodori, kemudian aplikasi kanji juga, dan diberi soal-soal latihan juga sama Sensei-nya.
MY: Selama mengikuti pembelajaran apakah Kak Firda pernah merasakan burn out? Bagaimana cara mengatasinya?
F: Kalau burn out atau bosen itu pasti ada aja ya, karena kan belajarnya nggak sebentar gitu. Kurun waktunya lama, hampir setahun, bahkan setahun gitu. Jadi paling bosen sih nunggu-nunggu kuota buat dapet JFT dan SSW itu paling membosankan. Cuman kemabli lagi karena kita niatkan untuk bekerja dan kita juga disini diwajibkan untuk mendapatkan persyaratan-persyaratan tertentu, salah satunya ujian-ujian itu, jadi ya mau nggak mau harus dilakuin.
Dan kalau semisalnya lagi lelah atau bosen itu, kembali lagi sih, kayak... Kalau semisalnya kita mau balik lagi, apa nggak sayang..? Kita udah jalan sejauh ini, gitu.
Gambaran Pekerjaan Saat Nanti Kak Firda di Jepang
MY: Bagaimana gambaran pekerjaan di Jepang nanti?
F: Sebenarnya udah pernah dijelasin juga sama Sensei TG dan Sensei lainnya, terkhusus dari Erpin Sensei—Sensei SSW saya—itu udah dijelasin kalau pekerjaan kaigo itu akan cukup melelahkan. Cuman karena kita sudah diniatkan untuk benar-benar bekerja dari sini, jadi ya semoga bisa melaksanakan semuanya dengan baik.
Karena dibagi juga kan nanti waktunya antara bekerja sama belajar lagi gitu di sana. Diwanti-wanti untuk tetap sehat, tetap sportif gitu. Jadi kayak membagi waktu dengan baik. InsyaAllah, pasti semuanya bisa dilakuin.
MY: Bagaimana pengalaman Kak Firda mengikuti interview dengan perusahaan Jepang?
F: Karena interview yang kemarin itu interview yang pertama kebetulan, jadi persiapannya benar-benar detail dan Alhamdulillah karena dibantu dengan Sensei TG di HMI, jadi makin terarah untuk memilah-memilah jawaban yang baik untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari shachou.
Dan Alhamdulillah, pertanyaan-pertanyaan yang diutarakan dari shachou itu semuanya ada di pembelajaran dari Sensei TG HMI. Jadi Alhamdulillah terbantu banget dan wawancaranya berjalan dengan baik, lancar, dan seru.
MY: Bagaimana perasaan Kak Firda saat mengetahui lulus interview dengan perusahaan?
F: Gak nyangka banget sih itu. Karena dari 4 siswa itu yang lulus cuman 3. Dan itu dibikin deg-degan karena pengumumannya setelah interview itu langsung diobrolin sama Sensei TG HMI, kemudian diumumkan. Jadi interview hari itu, dan pengumuman juga hari itu juga sekalian.
Dan itu deg-degan banget. Saya nunggunya itu sambil dzikir, sambil... Pokoknya berharap banyak semoga ini lulus, dan Alhamdulillah pas diumumin lulus itu seneng banget. Sampai orang tua juga ikut seneng.
MY: Apa yang paling berkesan saat interview dengan perusahaan Jepang?
F: Pas interview itu sebenarnya dikasih tau, “karena ini tuh di desa nantinya,” katanya... “Jadi diharapkan bisa naik sepeda.” Karena nanti juga dari perusahaan difasilitasi, dikasih sepeda.
Kemudian jarak dari apaato (apartemen) ke perusahaan itu lumayan jauh, sekitar 15-20 menit. “Jadi saya harap,” kata shachou-nya, “kalian tidak kelelahan dengan itu dan tidak keberatan.”
Kemudian setelah bekerja itu biasanya ada pembelajaran Kaigo Fukushishi (Ujian Nasional Keperawatan di Jepang) dan pembelajaran bahasa sekitar 1 jam sampai 2 jam setiap setelah bekerja. Dan diharapkan juga bisa mengikuti aturan-aturan yang ada di perusahaan
MY: Apa saja hal-hal atau pencapaian yang ingin dicapai selama di Jepang?
F: Hal-hal yang ingin dicapai ketika bekerja di Jepang itu sebenarnya banyak banget. Salah satunya ya, finansial. Karena saya juga kan belum memiliki apa pun... Setelah menikah belum punya apa- apa, jadi terutama sih pengen punya rumah, punya usaha sendiri, dan lain sebagainya.
Kemudian dari sisi pekerjaan, saya juga ingin mencapai Kaigo Fukushishi biar nanti bisa menjalankan kaigo-nya lebih lagi gitu. Pokoknya kayak tahapan-tahapan yang ada di kaigo itu InsyaAllah akan saya lakukan biar jenjang karier juga makin panjang.
Kalau bahasa, ya pengennya sampai... InsyaAllah pengen sampai N1. Cuman dari sekarang juga udah memikirkan gimana pembelajarannya, ngatur waktunya... InsyaAllah bakal dapetin sampai N1.
MY: Kapan Kak Firda berangkat ke Jepang?
F: Kalau rencana pemberangkatan itu di akhir tahun atau awal tahun, tapi spesifiknya belum tau. Kemungkinan Januari. Mulai dari sekarang juga kita udah mulai siap-siap buat bikin paspor dan lain sebagainya.
Kalau bisa sih (pengen kerja di Jepang) lebih dari 5 tahun ya. Kan visa kan sampai 5 tahun, tapi maunya sih lebih dari 5 tahun.
Untuk penempatan kerjanya sendiri di Himeji-shi, Hyogo-ken.
Kesan dan Testimoni dari Kak Firda tentang Belajar di AyoTG by Human Mandiri Indonesia
MY: Pesan ke diri sendiri di 1 tahun yang lalu?
F: Pengen nyampaiin aja sih: Berani mencoba itu baik. Jadi jangan takut buat ngelakuin hal-hal yang baru.
MY: Bagaimana testimoni belajar Tokutei Ginou di HMI?
F: Testimoninya baik banget karena Sensei TG di HMI itu sangat terarah dan sangat mengusahakan untuk kelancaran proses-proses anak-anaknya.
Cuman ya, kembali lagi karena proses itu kan tergantung dari orangnya. Kalau semisalnya kita lagi down atau ngerasa bosen dengan pembelajaran semuanya itu, balik lagi tujuan awal kita untuk ngambil program ini itu buat apa? Kemudian kita juga tujuannya ke Jepang mau apa? Pasti banyak mimpi-mimpi yang mau digapai, jadi jangan nyerah gitu aja. Karena proses itu kalau dijalanin ya pasti sulit, terus bosen... Tapi kalau semisalnya udah dilewatin, pasti itu indah banget sih.
MY: Pesan untuk yang masih ragu join HMI?
F: Untuk temen-temen yang masih ragu untuk ngambil program TG di HMI, gak perlu ragu karena di HMI itu tahapannya jelas dan sangat transparan. Jadi ketika mau ambil program TG di HMI, lanjutin aja, karena di dalamnya itu pasti banyak bimbingan-bimbingan—bimbingan psikis dan bimbingan pembelajaran itu pasti didapetin. Jadi jangan khawatir.
Kalau pun semisalnya belum bisa bahasa—dari nol gitu—masih nol, sama saya juga tadinya dari nol. Tapi ketika udah masuk ke TG di HMI itu pasti dibimbing dari nol. Bener-bener dibimbing sama Sensei-Sensei yang profesional.
Jadi jangan ragu, lanjutin mimpi kamu. Pasti banyak mimpi yang ingin dicapai untuk ngambil program ini. Jadi jangan ragu ya!
Nah, gimana ASquad, baca tanya jawabnya bikin jadi pengen tokutei ginou ke Jepang juga nggak nih?! Buat kamu yang punya impian dan ingin kerja ke Jepang, tapi belum bisa bahasa Jepang sama sekali, bisa banget nih daftar program persiapan tokutei ginou untuk pemula.
Tunggu apa lagi, yuk daftar sekarang, ikuti semua prosesnya dan masuk pelatihan untuk kerja ke Jepang dengan visa Tokutei Ginou. Jangan sampai menyesal karena melewatkan kesempatan yang baik ini ya. Kamu akan diajarkan bahasa Jepang dari awal dan kami pun menerima lulusan jurusan apapun! Kami tunggu pendaftarannya ya! Segera isi form ini sekarang juga ya.
ご連絡先
詳細については、直接お問い合わせください
所在地 :
Jl. Minangkabau Timur No. 17C, Pasar Manggis, Setiabudi, 南ジャカルタ, ジャカルタ, 12970

